Pada suatu pagi aku datang ke klinik tempatku bekerja seperti biasanya, menyapa semua orang yang kutemui. Namun aku merasa ada sesuatu yang aneh karena mereka menjawab dengan ala kadarnya sambil lalu tidak seperti biasanya, ramah. Mungkin mereka sedang sibuk, batinku.
Ternyata perasaanku benar, memang ada sesuatu. Dari seorang rekan aku tahu, kemarin baru saja ada pasien plus (meninggal). Sebenarnya itu bukan hal yang perlu digegerkan ketika ada pasien -yang pada dasarnya adalah orang sakit- kemudian meninggal. Yang membuat menarik adalah, keadaan pasien yang awalnya nampak baik-baik saja, kenapa lantas meninggal begitu saja? Oh iya aku adalah seorang laboran di sebuah rumah bersalin dan klinik rawat inap, satu-satunya laboran, tanpa senior, tanpa dokter patologi klinik yang seharusnya menjadi penanggung jawabku.
Kembali ke cerita, jadi kasus ini bermula dari sabtu malam datang pasien inpartu (akan melakukan persalinan). Kemudian pasien tersebut ditangani sesuai dengan SOP yang sudah ada, anamnesa, diagnosa, check tanda-tanda vital, semua normal dan bagus. Hanya saja karena datangnya malam dan aku sudah pulang jadi pasien tersebut belum sempat di periksa laborat. Ini penting, minimal untuk mengetahui Hb (Haemoglobin) dan trombosit yang ada di dalam darah. Setelah loading semalaman akirnya pasien ini partus (melahirkan) sekitar jam 5 pagi, ibu dan bayi selamat. Alhamdulilah~
Akan tetapi beberapa jam setelah itu, kondisi ibu tiba-tiba kristis. Terjadi pendarahan yang luar biasa hebat, harus naik meja operasi—kata dokter dr. Andi, dokter kandungan kami. Karena klinik kami belum mempu melakukan operasi, alhasil dirujuklah pasien itu ke Rumah Sakit. Selain berpraktik di klinik, dr. Andi juga dokter kandungan yang praktik di Rumah Sakit, jadi kepala tim yang mengoperasi pasien tersebut tidak lain dan tidak bukan ya dr. Andi sendiri. Dari diagnosa terakhir kemudian dilakukan operasi pengangkatan rahim, entah apa nama diagnosanya aku sendiri tidak familiar dan tidak paham (karena memang bukan bidangku) tapi sepertinya operasi itu tidak berjalan dengan lancar, dan akhirnya pasien tersebut tidak bisa diselamatkan. Innalilahi~
Rupanya berita ini cepat sekali menyebar dan masyarakat sangat pandai menambahi bumbu-bumbu di atasnya sehingga berita ini semakin sedap saja untuk dibicarakan. Mereka bilang ini malapraktik klinik kami. Padahal meninggalnya kan di rumah sakit bukan di klinik, hanya saja dokter kandungan yang menangani memang sama tapi kan belum tentu juga malapraktik, lagipula siapa yang bisa memprediksi pendarahan? Karena ramainya berita tersebut sampai-sampai klinik kami didatangi oleh para wartawan yang mencari berita, bahkan juga kena sidak dari Dinkes (Dinas Kesehatan) kabupaten.
Salah satu point yang dipertanyakan oleh Dinkes adalah, “Kenapa tidak di periksa laborat? Jika dari awal diketahui kadar Hb-nya rendah maka penanganannya pasti akan berbeda.”
Buseeeeeeet! Aku kena deh. Tapi aku tidak mau disalahkan begitu saja, karena memang aku tidak salah, aku juga tidak tahu-menahu sola kasus ini, orang aku sedang libur di rumah, aku tidak tahu apa-apa, sumpah. Soal periksa laborat itu juga harus berdasarkan permintaan dokter, aku tidak punya wewenang untuk memeriksa kalau dokternya tidak meminta ---ih rada pusing nih kayaknya yang nyidak. Kemudian aku diminta untuk menunjukan STR (Surat Tanda Registrasi) dan SIK (Surat Ijin Kerja). Dan sialnya, aku belum mempunyai yang kedua, SIK. Ya iyalah, orang aku baru lulus tahun kemarin lagian aku di klinik ini juga baru dua bulan, statusnya juga masih training belum jadi pegawai tetap. Duh gusti, apa dosaku.
Setelah kejadian ini aku merasa beruntung sekaligus takut, beruntung karena aku tidak melakukan pemeriksaan. Karena jika aku memeriksa pasti hasil pemeriksaannya akan dibahas atau mungkin malah dipertanyakan kebenarannya. Dan sungguh, aku akan sedih dan benci sekali jika hal itu terjadi. Kemudian aku takut jika kejadian ini akan berulang, aku takut terseret lagi pada kasus yang membahayakan seperti ini, terlebih disini aku tidak memiliki senior,dan parahnya tidak ada payung hukum yang melindungi karena SIK yang tidak kunjung keluar itu.
Dan jika boleh jujur, beberapa alat yang digunakan di klinik tempatku bekerja kondisinya sudah tua dan perlu peremajaan, jadi kadang hasil yang dikeluarkan juga meragukan. Berkali-kali aku minta diperbaiki, tapi belum juga ada tindakan dari perusahaan. Ya sudah, aku pasrah saja. Aku tidak bilang ini kepada rekan-rekan yang lain (perawat, bidan, RM) Kenapa? Karena jika aku bilang aku tidak yakin pada hasilku sendiri lalu bagaimana orang lain akan memandangku? Meremehkan pasti. Itulah kenapa aku bilang bahwa aku beruntung tidak melakukan pemeriksaan pada pasien yang akhirnya plus tadi. Karena hasilnya yang kadang tidak akurat. Aku takut salah.
Sempat kepikiran, apa aku resign saja ya? Bukan apa-apa, tapi ini menyangkut nyawa loh, nyawa brooooo. Karena dari tanganku diagnosa akan ditegakkan, pertanggung jawaban tidak hanya kepada atasan perusahaan, tapi juga kepada yang di atas sana, Tuhan. Aku tidak ingin mempermainkan keadaan mahkluk-Nya, menentukan kondisi manusia dengan ilmu kira-kira. Tapi jika aku resign aku mau kerja dimana? Lagipula aku baru bekerja selama dua bulan, jika aku keluar maka aku tidak akan mendapat surat keterangan pernah bekerja, hhmmmm pusing kan. Satu sisi aku takut dosa, takut rezekiku tidak berkah, tapi aku juga takut masa depanku suram jika resign begitu saja.
Sekarang, aku masih bertahan. Masih akan bertahan (mungkin) sampai tiga bulan kedepan. Aku yakin Tuhan memahami kondisiku, jadi kuharap aku bisa dimaafkan jika seandainya hasil yang aku keluarkan belum sesuai. Bagaimanapun aku selalu berdoa untuk kesembuhan semua pasien-pasienku, dan semoga kejadian mengerikan seperti ini tidak terulang untuk kedua kalinya.
Setelah kejadian ini aku merasa beruntung sekaligus takut, beruntung karena aku tidak melakukan pemeriksaan. Karena jika aku memeriksa pasti hasil pemeriksaannya akan dibahas atau mungkin malah dipertanyakan kebenarannya. Dan sungguh, aku akan sedih dan benci sekali jika hal itu terjadi. Kemudian aku takut jika kejadian ini akan berulang, aku takut terseret lagi pada kasus yang membahayakan seperti ini, terlebih disini aku tidak memiliki senior,dan parahnya tidak ada payung hukum yang melindungi karena SIK yang tidak kunjung keluar itu.
Dan jika boleh jujur, beberapa alat yang digunakan di klinik tempatku bekerja kondisinya sudah tua dan perlu peremajaan, jadi kadang hasil yang dikeluarkan juga meragukan. Berkali-kali aku minta diperbaiki, tapi belum juga ada tindakan dari perusahaan. Ya sudah, aku pasrah saja. Aku tidak bilang ini kepada rekan-rekan yang lain (perawat, bidan, RM) Kenapa? Karena jika aku bilang aku tidak yakin pada hasilku sendiri lalu bagaimana orang lain akan memandangku? Meremehkan pasti. Itulah kenapa aku bilang bahwa aku beruntung tidak melakukan pemeriksaan pada pasien yang akhirnya plus tadi. Karena hasilnya yang kadang tidak akurat. Aku takut salah.
Karena dari tanganku diagnosa akan ditegakkan, pertanggung jawaban tidak hanya kepada atasan perusahaan, tapi juga kepada yang di atas sana, Tuhan. Aku tidak ingin mempermainkan keadaan mahkluk-Nya, menentukan kondisi manusia dengan ilmu kira-kira.
Sempat kepikiran, apa aku resign saja ya? Bukan apa-apa, tapi ini menyangkut nyawa loh, nyawa brooooo. Karena dari tanganku diagnosa akan ditegakkan, pertanggung jawaban tidak hanya kepada atasan perusahaan, tapi juga kepada yang di atas sana, Tuhan. Aku tidak ingin mempermainkan keadaan mahkluk-Nya, menentukan kondisi manusia dengan ilmu kira-kira. Tapi jika aku resign aku mau kerja dimana? Lagipula aku baru bekerja selama dua bulan, jika aku keluar maka aku tidak akan mendapat surat keterangan pernah bekerja, hhmmmm pusing kan. Satu sisi aku takut dosa, takut rezekiku tidak berkah, tapi aku juga takut masa depanku suram jika resign begitu saja.
Sekarang, aku masih bertahan. Masih akan bertahan (mungkin) sampai tiga bulan kedepan. Aku yakin Tuhan memahami kondisiku, jadi kuharap aku bisa dimaafkan jika seandainya hasil yang aku keluarkan belum sesuai. Bagaimanapun aku selalu berdoa untuk kesembuhan semua pasien-pasienku, dan semoga kejadian mengerikan seperti ini tidak terulang untuk kedua kalinya.
Author : Auroraa
Pict Source : Here

0 komentar: