Bisa dikatakan akhir tahun 2016 merupakan masa-masa kritis dalam hidupku. Pada awal September aku resmi melepas status mahasiswa. Iya, aku wisuda. Walaupun pada awalnya sempat merasa salah jurusan dan tidak yakin pada jalan yang telah aku pilih, tapi ternyata pada akhirnya aku justru mencintai profesi ini dan bisa menyelesaikan pendidikan dengan baik. Selepas lulus aku tidak bisa langsung mulai bekerja begitu saja, sebagai tenaga kesehatan tentu saja banyak kecakapan khusus yang harus dikuasai. Tidak cukup hanya bermodalkan selembar ijazah, namun berbagai sertifikat dan surat ijin harus aku miliki terlebih dahulu.
Selagi menunggu surat ijin yang tidak kunjung keluar, Tuhan bermurah hati memberi pekerjaan kepadaku. Tes dan seleksi aku lewati dengan mudah, seolah pekerjaan ini memang khusus ditujukan untukku. Singkatnya, aku lolos seleksi dan bisa mulai bekerja pada pertengahan November.
Namun ada satu hal yang memberatkan hatiku untuk berangkat. Jarak. Aku yang pada dasarnya tidak pernah jauh dari dekapan rumah merasa sedih jika harus pergi jauh dan tidak bisa sering-sering menyapa rumah. Bukan manja, hanya saja aku tidak terbiasa. Dengan berbagai dorongan dan tantangan akhirnya aku memutuskan untuk berangkat. Merantau ke tanah orang hanya dengan bermodalkan nekat. Bagaimana tidak, tidak ada kerabat atau pun saudara disana bahkan lokasinya pun aku masih buta.
Hari pertama tiba disana aku mencoba untuk terlihat biasa saja. Namun dalam hati aku menyumpah—Gila ini tempat pelosok banget! Rumahku yang pada dasarnya sudah masuk dalam kategori pelosok, dan aku malah terdampar di tempat yang lebih pelosok lagi? Ya Tuhan. Apa boleh dikata, kaki terlanjur melangkah koper terlanjur diangkat. Tidak mungkin aku kembali lagi dan berkata, “aku tidak jadi bekerja.” Mau taruh dimana ini muka?
Dengan hati masih mengeja aku mencoba untuk menjalani minggu pertama. Bertemu orang-orang baru yang ternyata tidak membuatku merasa lebih baik. Entah bagaimana percakapan dan kalimat yang terlontar auranya begitu negatif, tidak ada sambutan hangat. Oke anggap saja aku tidak butuh sambutan dan basa-basi. Tapi bagaimana mungkin mereka sebagai penduduk asli—sebut saja pribumi—bisa dengan entengnya mengatakan bahwa keberadaanku disini tidak ada gunanya? Mereka menganggap keputusanku bekerja di sini adalah keputusan tolol. Hey, aku curiga mereka tidak pernah belajar perihal membaca situasi dan menyemangati orang lain.
Bergaul dengan orang- orang yang sulit berfikir positif, hidup di tempat yang memang dari awal tidak aku harapkan adalah mimpi terburuk sepanjang 20 tahun aku hidup di muka bumi ini. Perihal tempat mungkin lama-kelamaan aku bisa mulai terbiasa, tapi bagaimana jika orang-orang di sekelilingku sangat tidak membantu? Yang ada aku semakin tertekan, aku yang masih beradaptasi dengan lingkungan dan dihadapkan dengan ocehan orang yang tidak pandai membawa diri: melemahkan mental dengan sempurna.
Hari-hariku kemudian disibukkan dengan merapal doa-doa yang begitu-begitu saja. Semacam tolong bawa aku pergi dari sini, tolong kuatkan hatiku menerima kenyataan ini, tolong kirim aku kembali pada hidupku yang mendamaikan, tolong enyahkan orang-orang terkutuk ini.
Pikiran untuk resign tentu saja pernah melintas di kepala, tidak hanya sekedar melintas tapi selalu mondar-mandir. Akan tetapi aku tidak bisa resign begitu saja karena sudah ada kontrak yang sudah aku tanda tangani, dan sanksi yang menungguku jika aku menyalahi kontrak tersebut.
Aku mulai belajar untuk menerima kenyataan, mungkin dengan cara ini Tuhan mendidikku menjadi manusia yang lebih baik, menegurku karena aku yang dahulu tidak pernah bersyukur.
Lalu apa yang bisa aku lakukan? Sekarang aku hanya bisa pasrah pada Tuhan, karena Tuhan lah yang memberi pekerjaan ini maka aku yakin Tuhan juga akan menjagaku dan menyelesaikan masalahku di sini dengan cara-Nya yang tidak pernah terduga. Aku juga mulai belajar untuk menerima kenyataan, mungkin dengan cara ini Tuhan mendidikku menjadi manusia yang lebih baik, menegurku karena aku yang dahulu tidak pernah bersyukur. Dan dengan begini aku menjadi sadar, betapa damai dan membahagiakannya hidupku yang dahulu. Tuhan, telah kuterima ketentuanmu dengan lapang, maka kini tolong kuatkan lah aku untuk selalu berada di jalan-Mu. Salam dariku, hamba-Mu yang sedang dan masih belajar untuk bersyukur.
Author : Raa
Pict Source : Here

0 komentar: