“Hai”
Sapamu adalah hujan di tengah
kekeringan asaku.
Setitik oase di tengah gurun
hampaku.
Ucapkan itu, maka dahagaku terhapus
dari rongga bathinku.
“Pagi :)”
Terbayang senyum jenakamu walau
aku hanya menatap aksara.
Terukir di benakku tawa renyahmu.
Ingin kugapai dirimu, merengkuhmu,
berbisik padamu, “Beriringanlah denganku.”
Hingga suatu hari, tak lagi
kudapati pesanmu.
Tak lagi kudapati senyum dan sapamu.
Pagi yang berembun, begitu dingin
melingkupi relungku.
Mentari yang menyapa terasa terik, bukan lagi kehangatan yang menerpa pipiku.
Kuingin rasakan sejuk sapaanmu
kembali.
Kurindu kehangatan candamu
di penghujung hari.
Aku merindukan ocehanmu, komentar
sarkastikmu.
Aku merindukan setiap pertanyaan
jahilmu.
Aku merindumu seperti dermaga yang
merindukan kapal berlabuh.
Aku merindumu bagai merpati yang
merindukan angin.
Pagi demi pagi kulewati tanpa
sapamu.
Malam demi malam tak kudapati lagi
ucapan hangat selamat tidur darimu.
Bila memang tidak pernah ada ruang untukku, biarkan aku menjadi bintangmu.
Menerangimu dari kejauhan walau dengan cahaya redupku.
Walau sinarku hanya titik kecil dihidupmu.
Aku merindumu seperti dermaga yang merindukan kapal berlabuh.Aku merindumu bagai merpati yang merindukan angin.
Aku rindu merindumu.
Author: Sakura Stark
Pict Source : Here

0 komentar: